Apa itu branding dan Seberapa penting untuk strategi pemasaran
Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media.
Pemanfaatan Facebook Page untuk Membangun Brand
Jawabannya, tergantung dari tujuan membangun microsite itu sendiri. Kalau memang perlu mengeksposur brand ke konsumen, dan memberikan pemahaman tentang brand kepada konsumen, tentu microsite masih diperlukan. Namun, kalau tujuan membangun microsite itu adalah untuk membangun komunitas, maka lupakan membangun microsite, karena keberhasilannya akan kecil. Daripada bersusah payah mendatangkan orang untuk bergabung dalam komunitas sebuah microsite, kenapa tidak berpikir terbalik? Mengapa tidak microsite yang datang kepada komunitas?
Facebook Page menjadi salah satu alternatifnya. Yang membedakan fitur ini dengan fitur Facebook lainnya adalah, kita tidak perlu menjadi anggota Facebook untuk melihat kontennya. Semua halaman Facebook Page terindeks oleh Google, seperti situs-situs umum lainnya. Facebook Page memang didesain untuk publik, dan tidak terikat unsur privacy seperti Facebook Profile dan Facebook Groups. Facebook Page bebas dipakai untuk kebutuhan komersial, jadi brand apapun boleh memanfaatkannya.
Anggota Facebook yang tertarik dengan halaman tersebut bisa menjadi fan-nya. Meski menjadi fan dari sebuah Facebook Page, bukan berarti si pemilik halaman lalu bisa mengakses data pribadi para fan ya. Pengelola Facebook tentunya sangat berhati-hati akan hal ini.
Lalu apa saja fitur Facebook Page yang bisa dimanfaatkan oleh brand?
- The Wall, standar fitur komentar yang dipakai oleh Facebook.
- Discussion Board, forum diskusi sederhana. Jadi ingat, dulu ada beberapa brand mencoba membangun forum di microsite-nya tapi kenyataanya sepi pengunjung.
- Notes, semacam mini blog, yang bisa diadaptasi untuk penyampaian berita dan liputan.
- Events, kalau brand punya kegiatan offline, manfaatkan fitur ini untuk mengingatkan para fan-nya.
- Photos, berupa galeri foto yang bisa dikirimkan oleh pemilik halaman, maupun para fan.
- Video, berupa galeri video yang bisa dikirimkan oleh pemilik halaman, maupun para fan.
- Flash Player, dimana pemilik halaman bisa memasang file Flash, misalnya memasang advergame.
- Music Player, bila pemilik halaman adalah artis, ia bisa memasang track lagunya di sini.
- Reviews, berupa fasilitas review untuk promosi film.
- Static FBML, untuk hal-hal lainnya, misalnya brand ingin menaruh tautan unduhan wallpaper, atau bentuk halaman statis lainnya.
- Masih kurang puas? Bisa manfaatkan aplikasi pihak ketiga yang sudah ada dan siap pasang. Kalau masih belum puas juga, bisa juga membuat aplikasi Facebook sendiri yang bisa dipasang di Facebook Page.
Meski fitur Facebook Page lengkap, bukan berarti keberadaan microsite menjadi hilang. Ada batasan-batasan tertentu dalam melakukan branding Facebook Page. Kita hanya bisa mendesain sebatas yang diberikan oleh aturan Facebook. Jelas Facebook juga nggak ingin branding-nya hilang, seperti profil-profil anggota di Friendster atau MySpace yang terlihat berantakan tata letaknya.
Tidak semua kampanye online juga cocok dilakukan dengan Facebook Page, karena ada batasan fleksibilitas, dibandingkan kita membuatnya sendiri di situs terpisah. Namun yang bisa kita lakukan adalah membuatnya agar saling melengkapi. Bisa jadi Facebook Page ini menjadi salah satu gerbang masuk ke microsite. Facebook Page menjadi kendaraan awareness awal untuk mereka yang menjadi anggota Facebook. Saat mereka tertarik dengan info di Facebook Page, bisa jadi mereka akan langsung mendatangi microsite untuk membaca info atau berinteraksi yang lebih detil di sana.
dikutip dari>> http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/08/pemanfaatan-facebook-page-untuk-membangun-brand/
Merangkul Blogger untuk Promosi Brand
Tren ini ternyata terus berlanjut. Belum sebulan berlalu, sudah ada 2 event berbeda yang turut mengundang blogger. Konferensi pers yang dilakukan Pond’s kala peluncuran iklan berseri Bunga Citra Lestari ikut pula mengundang beberapa blogger sosialita (baca: gaul). Tak berapa lama kemudian, Sunsilk dengan Krisdayanti mengundang blogger yang sama untuk datang pada peluncuran buku “Hidup Tak Bisa Menunggu.”
Semua penyelenggara event ini berharap para blogger mau menuliskannya dengan sukarela di blog masing-masing. Tentunya dengan cara pandang masing-masing blogger. Terserah apakah tulisan itu bernada positif atau negatif, semua dikembalikan ke setiap blogger. Bahkan, kalau pun tidak ada blogger yang menuliskan pengalamannya, mereka pun tidak akan memaksa.
Bentuk lain namun dengan harapan hasil yang relatif sama adalah dengan meminta para blogger menuliskan advertorial di blognya. Blogger dibayar untuk melakukan review untuk suatu produk atau program promo yang diselenggarakan oleh brand. Produk atau detil program promo dikirimkan kepada para blogger, yang lalu diminta untuk menuliskan pengalamannya melalui sebuah tulisan di blog. Tentunya, isi tulisan dibebaskan. Terserah cara pandang dan pengalaman masing-masing blogger.
Semua kegiatan promo dalam blog itu punya tujuan serupa, yakni membangun buzz atau word of mouth. Semakin banyak blogger yang menuliskan hal tersebut, semakin ramai topik itu diperbincangkan dalam blogosphere. Semakin ramai diperbincangkan, brand yang dibicarakan pun menjadi semakin populer. Selanjutnya, tinggal kelihaian dari brand sendiri (atau agency komunikasi yang mewakilinya) untuk ikut aktif berbicara di dalam setiap blog tersebut, sehingga percakapan bisa terus terjadi secara positif.
Seperti yang diungkapkan oleh Hermawan Kartajaya di tulisan terbarunya tentang New Wave Marketing, promosi satu arah seperti yang dilakukan melalui TV, radio, ataupun media cetak, sudah tidak cukup lagi. Konsumen tidak mudah percaya begitu saja apa kata brand. “Kebenaran” yang ada tidak lagi dari sisi brand saja. Mereka lebih percaya bila “kebenaran” itu terjadi melalui percakapan yang setara antara pihak brand dan konsumennya.
Apa yang dituliskan seorang blogger seakan-akan bisa mengklarifikasi keraguan konsumen. Konsumen menjadi lebih percaya akan brand tersebut karena sudah ada orang lain yang mentestimonikan pengalamannya.
Sekarang pertanyaannya, apakah benar para blogger ini bisa memberikan dampak positif seperti yang diekspektasikan oleh brand? Apakah proses percakapan antara brand dan konsumen benar-benar terjadi?
Berdasarkan pengamatan dari beberapa komentar di blog seputar liputan atau advertorial, ternyata brand belum memanfaatkannya secara maksimal. Mereka masih berdiam pasif memantau setiap komentar, tanpa bertindak memelihara percakapan. Blog sepertinya masih dianggap hanya sebatas media semata. Sepanjang blogger sudah menuliskan pengalamannya, sudah dianggap cukup. Isi komentar dan balasannya masih belum terlalu dipedulikan.
Dikutip dari>> http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/18/merangkul-blogger-untuk-promosi-brand/
Brand Jangan Bermain-main di Social Media
November 18, 2009
Oleh Nukman Luthfie
(marketing)Beberapa bulan terakhir ini saya bertemu dengan banyak Brand Manager dan Marketing Manajer, atau PR Manager, yang tertarik memasukkan produk/brandnya ke social media, entah ke Facebook maupun ke Twitter. Kesan saya mereka amat sangat (ya amat sangat) ingin eksis di social media, entah karena terpukau oleh konsep Low Cost High Impact atau memang sadar marketing. Namun pada saat yang sama mereka tidak memahami konsekwensinya, baik dari sisi manajemen, budgeting maupun peluang berhasilnya.
Saya akan kupas satu per satu.
Pertama, soal manajemen.
Social media adalah medium komunikasi, yang bukan hanya dua arah, antara konsumen dan produsen, tetapi multi arah, sebuah komunikasi horizontal yang “kacau-balau” antarkonsumen, antarkosumen-produsen. Jenis komunikasi seperti ini sangat jarang dirasakan dan dialami oleh brand manager yang hanya terbiasa dengan komunikasi satu arah (produsen ke konsumen) dan dua arah (antarkonsumen-produsen). Komunikasi searah dan dua arah relatif mudah dikendalikan arahnya.
Namun komunikasi multiarah, yang melibatkan konsumen dengan konsumen nyaris tidak bisa dikendalikan yang bisa berpotensi merusak brand, atau sebaliknya: justru meningkatkan nilai brand. Itu sebabnya, banyak Brand Manager, Marketing Manager, PR Manager yang terkaget-kaget dengan komunikasi ini.
Siapkan manajemen dengan komunikasi multiarah ini? Faktanya, kebanyakan tidak siap. Terbukti dari keenganan perusahaan untuk investasi SDM khusus dan/atau alihdaya untuk mengelola social media.
Kedua, soal budgeting.
Mereka yang terbius dengan konsep Low Cost High Impact akan beranggapan bahwa pemasaran lewat social media itu murah meriah sekaligus memberikan hasil yang besar. Barangkali mereka lupa bahwa yang disebut “low cost” itu relatif terhadap marketing tradisional via iklan TV dan media konvensional lain. Bukan sekadar asal low cost.
Budget eksis di social media, memang terkesan murah. Pertama, eksis di Facebook dan Twitter boleh dibilang gratis. Kita dapat membuat akun Facebook (termasuk Fanpages-nya) tanpa biaya. Demikian pula di Twitter dan social media lain. Budget promosi di social media pun relatif rendah karena iklannya targeted, hanya menembak target audience yang kita sasar saja.
Namun jangan lupa, masuk ke social media pun butuh strategi, yang tentu saja punya nilai Rupiahnya. Belum lagi, perlu SDM yang cukup, yang paham social media dan komunikasi online, sehingga dapat mengelola eksistensi brand di social media selama 24 jam sehari, dan tujuh hari sepekan. Plus, karena komunikasinya via Internet semua, budget komunikasi Internet ini juga harus dimasukkan.
Itu belum termasuk budget marketing gimmick berupa kupon diskon dan sejenisnya untuk menjaga loyalitas konsumen yang bergabung di social media.
Ketiga, peluang berhasil.
Kebanyakan brand manager merasakan mudahnya masuk social media karena banyaknya fasilitas untuk membangun komunikasi multiarah baik di Facebook maupun Twitter.
Ditambah lagi, beberapa studi kasus keberhasilan brand mengadopsi social media bertebaran di mana-mana. Dell dan Starbucks selalu menjadi inspirasi banyak brand manager untuk mendulang sukses yang sama di social media.
Sayangnya, kita melupakan faktor penting yang mendorong keberhasilan dua merek kondang itu. Salah satu faktor terpenting adalah: kedua brand itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan konsumennya baik di offline maupun di dunia maya.
Dell misalnya, sejak awal berdirinya dirancang sebagai satu-satunya produsen komputer yang bisa menyediakan spesifikasi komputer apapun yang “dirancang” pembelinya via online. Percakapan online sudah terjadi sejak awal. Kemudian Dell menciptakan komunitas pengguna Dell, membangun komunikasi horizontal antarpengguna melalui IdeaStorm, agar konsumen bisa saling berbagi gagasan yang kemudian dieksekusi Dell. Itu terjadi sebelum Facebook dan Twitter mewabah di mana-mana. Kesuksesan Dell inilah yang kemudian dicoba diimplementasikan oleh Starbucks melalui Starbucks Ideas.
Kedua merek kondang itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan konsumennya sebelum masuk ke social media! Maka begitu mereka masuk ke social media, hasilnya luar biasa.
Permasalahannya, banyak brand di Indonesia yang tidak biasa atau bahkan tidak pernah bercakap-cakap dengan konsumennya, tiba-tiba ingin masuk ke social media dan berharap sukses.
Berkaca dari pengalaman Starbucks dan Dell yang memang sudah biasa bercakap dengan konsumennya SEBELUM masuk ke social media, kita bisa menduga bahwa peluang sukses brand yang tidak biasa berkomunikasi dengan konsumennya sebelumnya akan sangat kecil. Untuk memperbesar peluangnya, perlu usaha dan budget yang lebih besar.
Itu sebabnya, saya mengatakan, brand jangan “bermain-main” di social media. Jika ingin ke social media, seriuslah. Siapkan manajemen dan budget, serta analisa dengan baik bagaimana pola komunikasi dengan konsumen selama ini sehingga mendapatkan strategi yang tepat ketika masuk ke social media.
dikutip dari : http://virtual.co.id/blog/cyberpr/brand-jangan-bermain-main-di-social-media/
Tentang Creativepreneurship
Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya tentang Kopdar Pertama Belajar Kreatif. Saat itu yang rajin menulis blog ini ikut bercerita tentang pengalamannya mengembangkan perusahaan berbasis kreatif bernama Stratego dan lalu forum FreSh. Semuanya dijabarkan dalam beberapa poin, yang mudah-mudahan bisa menjadi tips bermanfaat bagi yang mendengarkannya.
Poin-poin tersebut bisa disimak di salindia presentasi berikut ini:
Idea
Ide adalah jelas modal utama bisnis berbasis kreatif. Nggak ada ide, ya nggak akan kreatif. Klien membayar kita untuk memberikan solusi. Makanya, kita yang harus memutar otak, mencari inspirasi, mencoret-coret, mencari data, yang bisa menjawab permintaan klien. Semua perusahaan kreatif mengandalkan ide sebgai basis utamanya. Tanpa ide nggak akan tergores tulisan di majalah. Tanpa ide nggak akan sebuah musik bisa tercipta. Tanpa ide nggak akan ada aplikasi web dan multimedia canggih. Ada banyak ide bermunculan datang dan pergi. Ide yang berhasil adalah yang bisa dipakai untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Saat kita berhasil memberikan solusi, saat itulah ide itu kita anggap berhasil.
Passion
Seperti Pak Nukman cerita di tulisannya, dalam berbisnis atau bekerja atau belajar, kita harus punya passion. Passion tidak akan pernah redam sampai apa yang kita inginkan tercapai. Kalau tiba-tiba kita merasa jenuh, sebaiknya kita mempertanyakan pada diri kita sendiri, benarkah jalan ini yang ingin kita tempuh? Kalau memang kita benar-benar passion akan yang kita kerjakan, kita tak akan pernah jenuh. Bisa jadi kita kelelahan, tapi itu tetap tak akan mengendurkan semangat kita dalam berusaha.
Partnership
Bekerjasamalah dengan seseorang yang kita benar-benar percaya. Berpartner akan meringankan beban pikiran, apalagi kalau yang dijadikan partner adalah orang yang benar-benar sudah klop dengan kita, yang bisa saling menutupi kekurangan lainnya. Selain itu, beraliansilah dengan rekan-rekan perusahaan lain. Tidak melulu semua kegiatan produksi kita kerjakan sendiri. Carilah rekanan yang punya prestasi bagus (atau setidaknya punya potensi untuk itu). Bangun kerja sama agar bisa saling menguntungkan satu dengan lainnya.
State your goals
Dalam melakukan setiap tindakan harus punya tujuan, supaya kita bisa mengukur tingkat pencapaian kita sejauh apa. Kita bisa tentukan per bulan, per 6 bulan, atau per tahun. Tingkat pencapaian bisa berupa target pemasukan, target akuisisi klien, atau target jumlah pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
Be unique
Ada banyak perusahaan berbasis kreatif. Banyak di antaranya yang mirip. Kita harus menemukan keunikan kita sendiri. Keunikan yang membuat kita mudah diingat, dan bahkan menjadi keunggulan kita di antara lainnya.
Proactive in finding opportunity
Menunggu diam saja tanpa bergerak tidak akan menghasilkan apa-apa, apalagi kalau kita baru memulai usaha. Bergeraklah! Buat materi presentasi yang menarik, kontak semua relasi, cari relasi baru di beragam acara, kalau perlu telpon-telpon calon prospek, dan ajukan presentasi langsung ke mereka. Bangun hubungan personal dengan teman-teman baru, agar nama kita semakin teringat di benak mereka. Siapa tahu nanti mereka yang memberikan peluang proyek kepada kita.
Rate yourself
Tentukan harga dari jasa kita sendiri. Bedakan antara harga produksi dan harga kreatif. Bisa jadi harga produksi suatu harga yang tetap dan kurang lebih sama dengan para pesain kita. Harga kreatif bisa jadi berbeda, karena nilai ide itu bisa tidak ada batasnya. Tentunya pengalaman pun ikut menjadi penentu harga. Kalau misalnya, kita menghargai ide kita 15 juta rupiah karena pengalaman kita yang cukup tinggi, ya jangan menerima penawaran lebih rendah dari itu. Beranilah menolak klien saat kita ditawar lebih rendah daripada harga kita sepatutnya.
Diversify
Ada istilah palugada (apa lu mau gua ada). Nggak salah juga, setidaknya saat-saat awal kita memulai usaha. Peluang nggak akan muncul dua kali. Kalau misalnya kita hanya terfokus pada 1-2 bisnis kreatif saja, saat ada yang menawarkan peluang proyek yang agak berbeda dari yang biasa kita lakukan, jangan takut untuk mengambilnya. Kita bisa mengerjakannya dengan beraliansi dengan rekanan lain. Karena, siapa tahu gara-gara kita mengambil peluang ini, kita malah bisa mengerjakan hal-hal lain dari klien sama di masa datang.
Be social
Banyaklah memberi setelah banyak menerima. Kalau kita sudah punya pengalaman, jangan ragu untuk membaginya ke orang lain. Bisa itu berupa tulisan di blog, berbicara jadi seminar, menulis buku, atau apapun. Saat kita membagi pengalaman, kita pun secara tidak langsung akan dilihat sebagai seorang yang kompeten, yang secara tidak langsung akan membuat nilai diri kita menjadi semakin meningkat.
Be a multitasker
Nah, saat memulai bisnis, jangan merasa malu menjadi seorang yang harus serba bisa. Bisa mendesain, bisa mengonsep, bisa berjualan di telpon, bisa menjadi kurir, bisa menjadi tukang tagih, bisa menjadi office boy, bisa menjadi tukang jaga pameran, bisa menjadi tukang, dan bisa bisa lainnya. Seseorang yang memulai bisnis multimedia dan berlatar belakang desain, jangan ragu untuk mulai belajar pemrograman, demikian sebaliknya. Seseorang yang biasanya di balik layar karena mengurusi produksi, harus berani bertatap muka langsung dengan klien dan ikut presentasi dan diskusi.
Trusted troops
Kalau pekerjaan multitasking sudah tak sanggup lagi dilakukan, percayakanlah sebagian beban ke orang-orang yang kita percayai. Biarkan mereka yang mengurusi, namun tentunya masih dalam pantauan kita. Kalau khawatir overhead bulanan membengkak, bentuklah pasukan tenaga freelance yang siap membantu kita lepasan hanya setiap ada proyek.
E-narcism
Sekarang era social media. Kita tidak dianggap eksis kalau kita tidak punya blog atau profil Facebook. Manfaatkan blog untuk bercerita tentang pengalaman dan kompetensi yang kita punya. Manfaatkan Facebook dan LinkedIn untuk membangun jaringan bisnis. Manfaatkan YouTube dan DeviantArt untuk memamerkan karya-karya kita. Manfaatkan Twitter dan Plurk untuk menceritakan hal-hal yang fun dari pekerjaan kita.
Sharing is good
Sekali lagi, berbagi pengetahuan dan pengalaman itu menguntungkan. Ilmu kita tidak akan hilang, justru kita akan dipaksa untuk belajar hal baru, agar kita bisa lebih unggul daripada yang lain. Namun, juga jangan kebablasan. Bila ada hal-hal yang saat ini masih menjadi keunggulan kita, ya jangan dibeberkan terlalu cepat. Saat kita sudah merasa cukup menuai hasilnya, bolehlah pengetahuan tentang hal itu kita bagi ke yang lain.
Never stops learning
Kita tidak boleh berhenti belajar, karena kita perlu membuat inovasi-inovasi baru. Sempatkan waktu untuk bereksperimen mencoba hal-hal baru. Siapa tahu di antara eksperimen kita itu malah membuahkan pemikiran baru yang menjadi keunggulan kreatif kita selanjutnya.
Prepare for rejection
Jadi pebisnis kreatif nggak selamanya enak. Harus sering pula merasakan kepedihan ditolak klien. Harus sering pula merasakan ikut tender atau pitch yang dibuat dengan melelahkan, lalu tidak menang. Jadi siap-siap saja menerima berbagai penolakan, baik yang disampaikan baik-baik atau yang paling tidak mengenakkan, tidak dikabari sama sekali. Sudah sering terjadi calon klien minta kita menyiapkan pitch, tapi tidak pernah memberi kabar apakah pitch kita diterima atau tidak.
Poorer than your friends?
Nah, seperti para pebisnis lainnya, siap-siaplah jatuh miskin. Ini bagian yang suka dilewatkan. Katanya berbisnis itu menguntungkan? Memang benar, tapi tidak dalam waktu singkat. Sebelumnya harus melalui masa-masa penderitaan. Bisa jadi saat kita berkumpul dengan teman-teman alumni, kitalah yang saat itu paling miskin. Ada yang sudah menjabat sebagai manajer senior di perusahaan tertentu, sementara kita masih mengais-ngais mencari peluang bisnis. Namun, kalau dilakukan dengan serius dan benar, dalam 2-3 tahun, bisa jadi (penekanan pada bisa jadi loh) kita lebih makmur daripada mereka. Atau, bisa jadi pula kita semakin melarat dibandingkan mereka.
Boring administration
Salah satu hal yang membuat malas adalah urusan administrasi. Karena kita terbiasa berpikir kreatif, memanfaatkan otak kanan kita untuk berkreasi, begitu kita berhadapan dengan hal-hal yang bersifat administratif, kita menjadi malas. Memang jujur saja, hal tersebut memang menjemukkan, namun mau tidak mau harus kita hadapi, seperti penyusunan proposal harga, penagihan, hingga mengurus pajak,
Time to start?
Sekarang tinggal pilih, mau mulai membangun bisnis kreatif sejak baru lulus, atau bekerja dulu pada perusahaan lain, baru keluar untuk membangun bisnis sendiri. Saat baru lulus, biasanya idealisme kita masih tinggi, dan keinginan untuk membuat sesuatu yang baru sangat besar. Bisa jadi kita punya keunggulan lebih dalam hal kompetensi, namun sayangnya jaringan bisnis kita belum luas, dan kita tak punya modal sama sekali. Kita butuh perjuangan ekstra untuk membentuk jaringan rekanan dan klien. Kalau kita terlebih dahulu bekerja dengan orang lain, setidaknya kita punya tabungan dan jaringan bisa kita mulai bangun dari tempat kita bekerja. Kelemahannya, bisa jadi kita menjadi terlalu nyaman berada di sana, sehingga semakin lama semakin sulit untuk keluar. Bisa jadi kebiasaan kita menerima gaji setiap bulan memberikan ketakutan tersendiri akan masa depan yang tak pasti, saat kita membangun usaha sendiri.
Dikutip dari: http://media-ide.bajingloncat.com/2009/07/04/tentang-creativepreneurship/
Saat Brand Berkampanye Melalui Channel Social Media
(Marketing)Sampai sekitar 3 tahun lalu, saat portal informasi masih menjadi tujuan utama pengguna internet Indonesia, pola berkampanye brand di ranah daring masih menggunakan pola sama. E-Advertising mereka lakukan dengan cara memasang iklan brand di spot-spot portal dan membayar sewa spot itu selama minimal sebulan. Tak beda dengan apa yang brand lakukan di media cetak dan televisi. Sekeren-kerennya desain brand, informasi yang disampaikan masih tetap satu arah, dari produsen ke konsumen.
Perkembangan selanjutnya, desain brand semakin interaktif, dengan perkembangan rich media banner. Pengguna bisa berinteraksi, bermain game, mengirim data via form di dalam brand, dan mendapatkan pengalaman lebih dari sekedar menatap pasif iklan. Bahkan ada beberapa situs yang menawarkan untuk mengubah desain tampilan portal agar relevan dengan tema kampanye brand.
Meski dengan rich media banner, interaksi terasa lebih kaya, namun pesan yang diberikan masih dominan disampaikan oleh brand. Pengguna belum bisa merasakan pengalaman yang membuat iklan yang disampaikan itu menjadi terasa lebih personalized. Tidak ada yang membuatnya menjadi khas sesuai keinginan pengguna. Kalau diizinkan, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 1.0. Komunikasi yang terjadi masih cenderung satu arah, bersifat top-down.
Saat blog tumbuh pesat dan gaungnya membesar sejak tahun 2007, brand secara perlahan-lahan mulai melirik ini sebagai salah satu channel potensial. Meski masih meraba-raba, beberapa brand ternama mulai mencoba meraih atensi para narablog (blogger). Sebutlah PT Toyota-Astra Motor, sebagai brand pertama yang menyelenggarakan gathering makan siang bersama para narablog. Karena ini merupakan hal baru, para narablog pun antusias menghadiri acara dan melakukan reportase tulisan di blognya. Ada pula yang mengadakan kompetisi blog, dengan harapan nama brand itu disebut di banyak blog. Secara tidak langsung para pembaca blog yang ikut dalam kompetisi itu pun aware akan kegiatan brand tersebut.
Sekarang saat Facebook menjadi situs yang paling banyak dikunjungi pengguna internet Indonesia, pola kampanye brand pun semakin bergeser. Istilah social media marketing pun mulai dikenal. Kalau dahulu brand berkampanye dengan membuat situsnya sendiri, kini tak lengkap kalau kampanye itu tak terintegrasi dengan Facebook. Bahkan kini ada brand seperti BNI yang hanya berkampanye di dalam Facebook, tanpa membuat situs kampanye tersendiri. Kalau dulu pengunjung diminta untuk datang ke situs kampanye brand, kini eranya brand yang mendatangi dimana para pengguna internet biasa berkumpul.
Melalui blog, Facebook, lalu Twitter dan YouTube, setiap program kampanye dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi pengalaman unik setiap individu yang berpartisipasi. Dari sisi pengguna pun terasa lebih nyaman, karena mereka lalu tidak melihatnya seperti iklan. Mereka melihatnya sebagai salah satu fungsi yang umumnya mereka lihat saat sehari-harinya mereka beraktivitas di social media. Apalagi kalau program yang dilakukan brand menunjang E-Narcism mereka. Iklan terlihat lebih halus, dan lebih disukai para targetnya. Melalui kampanye seperti ini pun, brand bisa terlibat dalam percakapan dengan para penggunanya. Brand tentu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, karena percakapan tak bisa dikendalikan sepenuhnya lagi oleh brand. Nah, kalau diizinkan lagi, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 2.0.
E-Advertising 1.0 bersifat satu arah, hanya dari brand menuju konsumen, sementara E-Advertising 2.0 bersifat dua arah. Konsumen yang terlibat dalam percakapan dengan brand menyebarkannya ke teman-temannya yang lalu ikut pula melibatkan diri dalam percakapan dengan brand.
Baca juga tulisan tentang E-Cosystem untuk mendapatkan gambaran skematik besarnya.
Dikutip dari: http://media-ide.bajingloncat.com/2009/07/08/saat-brand-berkampanye-melalui-channel-social-media/
Gelombang Baru Digital Preneur Indonesia
(advertising)Akses Internet yang makin murah, teknologi gadget yang makin fungsional, dan maraknya penggunaan media sosial rupanya berdampak signifikan terhadap bermunculannya para digitalpreneur generasi baru yang lebih kreatif dibandingkan sebelumnya.
Setelah era dotcom bubble, tampaknya information and communication technology/ICT Indonesia sedang memasuki babak baru yang lebih pragmatis. Terutama, dalam melihat peluang bisnis di dunia maya. Era konvergensi dan Web 2.0 semakin membuka peluang bagi lahir dan berkembangnya para digitalpreneur yang lebih kreatif dan inovatif.
Infrastruktur telekomunikasi yang kian memadai, serta semakin mudah dan murahnya akses Internet, turut memicu tumbuhnya wirausaha di bidang ICT. Bahkan, sukses situs pertemanan Facebook telah ikut mengilhami dan mendorong lahirnya generasi baru digitalpreneur. Maklum, seperti diketahui, pengguna Facebook di Indonesia sangat fenomenal. Saat ini, pengguna Facebook di negeri ini menempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Berdasarkan survei Inside Facebook yang dilakukan e-Marketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik sekitar 1.400.000 pengguna dalam sebulan terakhir. Pada 1 Desember 2009, e-Marketer mencatat Facebook memiliki 13.870.120 pengguna di Indonesia. Adapun pada 1 Januari 2010 sebesar 15.301.280 pengguna. Indonesia hanya satu peringkat di bawah AS yang mencatat kenaikan jumlah pengguna sebesar 4.576.220 pengguna dalam periode yang sama dari 98.105.020 menjadi 102.681.240 pengguna. Namun, persentase kenaikan jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai dua kali lipat AS. Indonesia naik 10%, sedangkan AS hanya 5%. Kenaikan 10% termasuk pertumbuhan tertinggi di dunia.
Fenomena Facebook tersebut melahirkan entrepreneur TI generasi baru seperti Fajar Persada. Ia membuat animasi flash game. Menurutnya, dalam satu hari ada sekitar 10 ribu pengguna Facebook yang memakai satu flash game. Di bawah bendera Abigdev, kini Fajar telah meluncurkan 8 jenis game yang berbau edukasi, seperti Nusachallenge dan Angklung Heroes Game. Dan masih banyak lagi yg terdapat di dalamnya.
Seiring dengan makin murahnya layanan Internet, banyak pula entrepreneur yang fokus di dunia online dan Internet. Salah satunya, Brian Arfi, pendiri PernikMuslim.com dan PT DheZign Online Solution, perusahaan yang melayani jasa web development dan layanan online marketing.
Selain Facebook, ponsel cerdas BlackBerry juga mencatat prestasi pengguna yang fenomenal di Indonesia. Efek dominonya, bermunculan para pengembang aplikasi konten untuk BlackBerry. Sebut saja, Ronald Ishak yang mendirikan Domikado dan Kemal Arsjad yang mendirikan Better-B, sebagai perusahaan pengembang aplikasi dan konten untuk ponsel cerdas keluaran Research In Motion (RIM) itu.
Tentunya, kurang afdol berbicara tentang pengembang konten untuk ponsel cerdas tanpa menyebutkan nama Kendro Hendro. Boleh dibilang, sejauh ini Kendro merupakan salah satu entrepreneur yang cukup sukses menjadi pengembang aplikasi konten untuk vendor ponsel Nokia, lewat PT InTouch Innovative Indonesia. Salah satu produknya yang menonjol adalah fitur setting wizard yang dipakai di seluruh ponsel cerdas Nokia. Ia juga menggeluti bisnis mobile commerce lewat PT MORE Indonesia.
Digitalpreneur lain yang cukup bersinar di bisnis aplikasi mobile dan multimedia ini adalah Joseph Lumban Gaol. Melalui bendera bisnisnya PT Antar Mitra Prakarsa (m-STARS), kini Joseph memiliki beragam bisnis di bidang itu. Antara lain, mobile commerce (payment gateway) untuk 30 online merchant dan 2.000 agen pulsa online, mobile content untuk hampir seluruh operator telekomunikasi (kecuali Mobile-8), mobile advertising, portal musik (Popmaya.com), digital label (dr.m), dan 3D social media (LILO). Konon, hingga 2009 m-STARS mampu membukukan omset lebih dari Rp 20 miliar. “Kue bisnis di ICT besar sekali. Sedangkan kue yang kami makan masih sangat kecil,” ucap Joseph.
Selain Joseph, entrepreneur lain yang membidangi teknologi mobile provider adalah Elwin Aldririanto yang mendirikan PT Mobee Indonesia. Lalu, ada Ari Sudrajat dkk. yang mendirikan perusahaan content provider BrainCode. Saat ini, BrainCode sudah bekerja sama dengan Telkomsel, Indosat, XL, TelkomFlexi, Esia, 3 dan Smart.
Di kategori e-commerce, contoh entrepreneur yang cukup sukses adalah Heryanto Siatono, pemilik situs Bookjetty.com. Situs ini terhubung dengan toko buku Internet terbesar dunia Amazon.com, juga dengan 300 perpustakaan di 11 negara (antara lain, AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hong Kong dan Taiwan).
Semakin mudah dan murahnya akses Internet juga mendorong bermunculannya digitalpreneur kreatif di bidang pengembangan aplikasi game. Di antaranya, Oka Suganda, yang melalui Sangkuriang Studio mengembangkan bisnis game Nusantara Online. Oka dan timnya membuat game itu berbasis pada mesin game ANGEL (Another Game Engine Library) dan merupakan massively multiplayer online role playing game (bisa dimainkan ribuan orang secara simultan).
Tak kalah kreatif dari Oka dkk. di Bandung, Abdullah Alkaff dan Suhadi Lili pun mengembangkan aplikasi game yang tak umum, lebih tepatnya aplikasi simulasi online. Melalui bendera PT Infoglobal Auto Optima (IAO) yang berbasis di Surabaya, pengajar dan mantan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu membuat aplikasi game untuk kepentingan militer dan pertahanan, pemetaan udara, maskapai penerbangan dan industri migas. Saat ini, seperti dikemukakan Khoirul Huda, Koordinator Board of Directors Infoglobal Group, beberapa perusahaan dan lembaga telah menggunakan aplikasi buatan IAO. Antara lain, PLN, Garuda Indonesia, Vico Indonesia, Total Finaelf (Kalimantan Timur), Exxon Mobil, Medco, BP Migas, Kangean Energy Indonesia, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, TNI AL, Sesko AU, Kohanudnas, Departemen Pertahanan dan Bank Islam Brunei Darussalam. Awalnya, omset yang dibukukan IAO hanya Rp 10-20 juta, dan pada 2009 omsetnya sudah Rp 25 miliar.
Di kategori business software, fenomena kemunculan para entrepreneur TI tak kalah serunya. Di sini terdapat ratusan pengembang aplikasi. Menurut data Independent Software Vendor (ISV) binaan Microsoft, diperkirakan ada 500-an ISV lokal di Indonesia — 251 di antaranya bercokol di Jakarta. Hal yang sama dikemukakan lembaga riset internasional IDC: jumlah software house di Indonesia naik menjadi 500 unit tahun 2008, dengan jumlah pengembang profesional 71.600 orang. Jika dilihat dari jumlah total pengembang profesional di dunia yang sebesar 13,5 juta, Indonesia baru menyumbang 0,5%. Sumbangan terbesar dari India (10,5%), disusul AS (8,9%). Secara regional, wilayah Asia Pasifik penyumbang developer terbesar di dunia (29,2%), disusul kawasan Amerika Utara (21,7%).
Wirausaha yang sukses di bidang aplikasi bisnis ini antara lain G. Hidayat Tjokrodjojo dan Ryadi Darmazi, pendiri PT Realta Chakradarma. Salah satu produk software yang mereka kembangkan dan menjadi produk unggulan mereka adalah solusi R-hotel-S untuk dunia perhotelan. Software ini digunakan sedikitnya di 40 hotel. Nama lainnya adalah Indra Sosrojoyo, pendiri PT Andal Software yang membuat software akuntansi dan perpajakan dengan merek andalan Andal Kharisma. Lalu, ada Fadil Basymeleh, yang melalui PT Zahir Internasional menciptakan peranti lunak akuntansi dengan merek Zahir Accounting. Juga, Wiwie Haris, pendiri software house PT Mitrais di Bali. Aplikasi buatan Mitrais ini sudah dipasarkan di Malaysia, Australia dan negara-negara Afrika. Ada pula Happy Chandraleka dan Taufan Chandra Kusuma, yang mendirikan Digital Works. Aplikasi yang pernah dibuat Digital Works antara lain WinShalat, BuDarti (digital dictionary), Mata-mata (keylogger), Shandiyudha, Gamelan dan Layar Tancep.
“Lulusan” ISV binaan Microsoft yang cukup sukses mengembangkan kreasi sendiri adalah Andri Yadi. Melalui PT DyCode Cominfotech Development, Andri telah mengembangkan beberapa peranti lunak. Salah satunya, PortMan (Port Management System), yang telah digunakan beberapa pelabuhan swasta besar di Indonesia. Juga, Tonny Loekito dengan bendera bisnisnya PT Rent@soft, yang fokus di pengembangan peranti lunak untuk rumah sakit dan bank. Salah satu aplikasi andalannya adalah Rhinotones, sistem informasi berbasis web yang terintegrasi untuk rumah sakit.
Ada juga yang fokus di bisnis pengembangan aplikasi pendidikan. Salah satu contoh suksesnya adalah Hary Sudiyono Chandra melalui PT Pesona Edukasi. Aplikasi Pesona Edukasi ini telah dipasarkan ke 23 negara. Selain Hary, nama lainnya di bidang software pendidikan adalah Putu Sudiarta, pendiri PT Bamboomedia Cipta Persada.
Dan, sejalan dengan tumbuhnya semangat penerapan tata kelola pemerintahan yang baik (good corporate governance), peluang bagi pengembangan aplikasi e-Goverment (e-Gov) pun terbuka lebar. Salah satu wirausaha yang cermat menangkap peluang tersebut adalah Virgo Lazarus Pehulisa. Melalui PT Balerang Konsultindo Mandiri (BKM), Virgo mengembangkan berbagai aplikasi untuk kebutuhan e-Gov. “Saat ini, klien BKM mencakup sejumlah pemda, mulai dari Sumatera Utara hingga Papua,” kata Virgo.
Singkatnya, seiring dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, semangat kewirausahaan di bidang ICT di Indonesia tumbuh cukup subur. Bahkan, kini hampir semua lini di industri ICT telah digeluti. Tumbuhnya para digitalpreneur ini tentunya diharapkan bisa berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Badan Telekomunikasi Dunia (ITU) menyebutkan, setiap 1% pertumbuhan dalam hal penetrasi ICT akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebesar 3%.
Karena itu, dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun pihak perusahaan (vendor atau korporasi), sangat diharapkan bagi pertumbuhan bisnis para digitalpreneur tersebut. Salah satu vendor yang cukup punya perhatian terhadap pengembangan entrepreneurship adalah Microsoft. Menurut Irving Hutagalung, ISV Lead Developer and Platform Group Microsoft Indonesia, saat ini Microsoft punya dua program pengembangan entrepreneur TI, yakni BizSpark dan WebsiteSpark. BizSpark adalah program yang ditujukan bagi perusahaan pembuat software yang umur usahanya di bawah tiga tahun atau disebut start-up. Adapun WebsiteSpark merupakan program yang ditujukan untuk perusahaan pembuat website atau yang fokus pada bisnis pengembangan dan perancangan web yang jumlah karyawannya di bawah 10 orang. Selain syarat di atas, pendapatan tahunan calon peserta harus kurang dari US$ 500.000.
Bantuan yang diberikan Microsoft pada peserta program BizSpark dan WebsiteSpark berupa software, visibility dan pelatihan. Visibility di sini agar peserta program bisa terlihat oleh para pelanggan Microsoft. Misalnya, ketika Microsoft mengadakan pameran, akan disediakan booth bagi peserta program secara gratis dan mereka bisa ikut pameran, sehingga mereka bisa berkenalan dengan mitra jejaring Microsoft. Peserta program BizSpark dan WebsiteSpark akan dibina dan diberi bantuan selama tiga tahun. Sejauh ini sudah lebih dari 200 entrepreneur bergabung di kedua program itu.
Selain itu, Microsoft juga memiliki program BinaISV, yang ditujukan untuk mengembangkan ISV lokal di Indonesia. Dalam program yang berjalan sejak 2003 ini Microsoft akan memberikan visibility, pelatihan dan support, serta technology update. Sudah ada 210 peserta yang bergabung dalam program Bina ISV. Menurut Irving, sebagai perusahaan, Microsoft datang dengan dua misi: memperkenalkan teknologi dan menjual software. “Agar dua hal ini bisa berjalan berbarengan, kami perlu satu local software economy yang tinggi pertumbuhannya. Makin tingginya pertumbuhan di local software economy ini secara tidak langsung ada impact-nya ke Microsoft.”
Selain Microsoft, korporasi lokal yang mulai serius memberi perhatian dan dukungan terhadap perkembangan para digitalpreneur ini adalah PT Telkom. Seperti dikemukakan Widi Nugroho, Head of Digital Business PT Telkom, guna mendukung orang bisa berkarya terutama di bidang teknologi digital, Telkom membuat Indonesia Digital Community (Indigo). Tujuannya, untuk memfasilitasi dan mewadahi insan kreatif Indonesia dalam berkarya. Indigo punya banyak program, salah satunya Indigo Fellowship. “Indigo Fellowship menjaring ide-ide atau karya kreatif yang ada di masyarakat. Kami seleksi, kemudian akan difasilitasi dan dibina agar bisa sukses,” papar Widi.
Program ini baru mulai setahun lalu, dan berhasil menjaring 11 orang dari sekitar 400 peminat yang mendaftar. Mereka diberi fasilitas modal usaha sekitar Rp 50 juta. Selain itu, mereka juga diberi pembinaan seperti membuat business plan, cara memasarkan produk, serta diikutkan dalam seminar, pameran, dan kegiatan lain yang dapat mengembangkan bisnis mereka. “Harapannya, mereka bisa menjadi digitalpreneur sukses dan menjadi partner bisnis Telkom. Mereka punya kesempatan untuk bisa makin sukses,” katanya.
Peserta yang sedang digodok dalam program ini di antaranya pemilik suararadio.com, yaitu pengembang aplikasi e-broadcast untuk pengelola radio swasta. Ada juga ayofoto.com, komunitas online di bidang fotografi di mana orang bisa mem-posting foto di situ. Web ini bisa menjadi photo stock premium sehingga orang bisa beli foto lewat web ini.
Selain infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan akses Internet yang semakin mudah, tumbuhnya para digitalpreneur itu, menurut pengamat dan praktisi TI Richard Kartawijaya, disebabkan beberapa faktor. Pertama, pasar yang tumbuh sangat pesat, baik lokal maupun luar negeri. Kedua, teknologi ICT berkembang pesat dan semakin kelihatan kegunaannya di berbagai bidang, bahkan masuk dalam bidang entertainment dan usaha. Ketiga, jumlah masyarakat yang mempunyai kemampuan menggunakan ICT semakin banyak. “Saat ini, ICT bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi enabler di semua bidang,” ucap Direktur Utama PT Informatika Solusi Bisnis itu.
Sementara itu, Richardus Eko Indrajit menilai bermunculannya ICT-preneur ini lantaran umumnya hanya membutuhkan modal relatif kecil. Selain itu, risikonya relatif kecil. Terlebih lagi, bisnis ini bisa selaras dengan hobi pribadi atau sekelompok orang. “It’s a nothing to lose business untuk mereka yang punya hobi dan passion di suatu bidang,” ujar pakar TI dari Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer itu.
Baik Richard maupun Eko sepakat bahwa ke depan masih terbuka sejumlah peluang yang bisa digarap di bisnis ICT ini. Antara lain, pemakaian multimedia di banyak bidang, terutama di bidang entertainment dan usaha. Misalnya, dalam wujud animasi, film (movie), desain grafis, iklan, musik dan konten entertainment. Juga, yang cukup potensial berkaitan dengan jasa ritel, seperti ticketing system, e-banking dan electronic payment.
Faktor-faktor Pendukung Perkembangan Digitalpreneur di Indonesia
• Berkembang pesatnya penggunaan ponsel.
• Berkembangnya situs Internet yang memberikan kemudahan bagi
para pengembang untuk menjual aplikasinya (applet) ke konsumen
di seluruh dunia. Contohnya, Apple Store dan BlackBerry Apps World.
• Ketersediaan teknologi dan alat pembuatan peranti lunak sistem informasi.
• Biaya pemanfaatan ICT yang makin terjangkau,
termasuk biaya akses dari infrastruktur ICT dan biaya peranti keras/lunak.
• Ketersediaan tenaga pengembang lokal yang mumpuni.
• Struktur bisnis lokal yang mendukung pemakaian ICT secara intensif,
misalnya industri perbankan dan telekomunikasi.
• Dukungan pemerintah terhadap ICT.
Dikutip dari.: http://swa.co.id/2010/02/gelombang-baru-digitalpreneur-indonesia/
Cara Enzim Merebut Pasar
(Marketing)Walau tergolong cukup nekat, Enzim berhasil merebut sebagian pasar pasta gigi. Kuncinya: diferensiasi produk yang sangat jelas dan edukasi tiada henti.
Mungkin kita tidak pernah memperhatikan, dari sekian banyak fosil manusia purba yang ditemukan, tak satu pun yang mengalami kerusakan gigi. Padahal, manusia purba belum memiliki kebiasaan menyikat gigi. Bandingkan dengan manusia modern yang rajin menyikat gigi, tetapi sudah mengalami kerusakan gigi. Hal itulah yang mengundang rasa penasaran L. Alexander Agung dan mendorongnya untuk meneliti hal tersebut.
Dibantu pakar dari beberapa universitas ternama di Tanah Air, Alex serius melakukan penelitian. “Ternyata manusia sudah memiliki pelindung alami, yaitu air liur,” kata Alex. Dia menjelaskan, manusia purba selalu memakan makanan yang alami, sehingga air liur dapat bekerja secara maksimal dalam melindungi gigi. Hal ini berbeda dari manusia modern yang banyak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia seperti pewarna, pengawet dan pestisida yang merusak kualitas air liur.
Yang lebih mengejutkan lagi, berdasarkan penelitiannya, ternyata detergen yang banyak digunakan pada pasta gigi termasuk salah satu zat yang merusak sistem pertahanan alami dalam mulut yang disebut Laktoperoksidase (LP-sistem). LP-sistem merupakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yang secara alami terdapat dalam rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat 40-50 protein yang bisa membantu mencegah berkembangnya kuman-kuman penyakit di dalam rongga mulut. “Jika sistem pertahanan dalam rongga mulut ini dirusak oleh hal-hal tadi, boleh jadi orang akan terkena radang gusi, sariawan dan bau mulut,” katanya.
Berdasar pada temuan tersebut, Alex memberanikan diri meluncurkan produk pasta gigi dengan diferensiasi utama tanpa detergen. Alex mengatakan, langkahnya tergolong sangat nekat. Pasalnya, pasar pasta gigi tergolong sudah sangat mature. “Penetrasinya hampir 100%,” ungkapnya. Tambah lagi di kategori produk ini ada raksasa yang sudah sangat kuat mencengkeram pasar.
Alex pun menyadari sebelumnya hampir tidak ada pemain yang berhasil menggoyang dominasi sang raja. Bahkan, perusahaan yang skalanya jauh lebih besar dari perusahaannya saja tidak mampu berbuat banyak kala menggarap kategori ini. “Saya sadar, peluang keberhasilan saya hanya 0,1%. 99,9% bakal gagal,” ujarnya.
Namun, Alex tetap bergeming. Tahun 1991, di bawah bendera PT Enzym Bioteknologi Internusa (EBI), ia nekat meluncurkan pasta gigi yang diberi merek Enzim tersebut. “Kami sangat percaya akan kekuatan produk ini,” katanya tegas.
Karena tidak mengandung detergen, menurutnya, Enzim dapat berfungsi sebagai salah satu solusi untuk merehabilitasi sel-sel air liur yang telah dirusak oleh bahan-bahan kimia. Pasta gigi Enzim dibuat tidak hanya untuk membersihkan gigi, tetapi juga untuk membersihkan rongga mulut dan mengembalikan fungsi air liur.
Akan tetapi, belum apa-apa, EBI sudah mendapat kendala. “Awalnya, tidak ada distributor yang mau mendistribusikan produk ini,” ujar Alex mengenang. Menurutnya, hal itu tergolong sangat wajar. Pasalnya, Enzim mengusung strategi yang tergolong antitesis. Pertama, diferensiasi Enzim (tanpa detergen) membuat produk ini menjadi terasing. Pasalnya, semua produk pasta gigi lainnya menggunakan detergen dan konsumen pun sangat terbiasa dengan produk tersebut. “Mitos yang berkembang adalah, kalau gosok gigi tidak ada busanya, berarti tidak bersih,” ujarnya.
Kedua, harga yang dipatok Enzim di atas pemain-pemain lain. Perbedaannya pun sangat signifikan, mencapai 3-4 kali lipat. “Orang bilang kami gila, pemain baru dan merek lokal, tapi harganya mahal,” ujarnya.
Strategi harga tersebut memang sengaja ditempuh EBI. Pasalnya, ongkos produksi dan bahan bakunya memang lebih mahal dibanding pasta gigi lain. “Tidak selamanya produk lokal harus lebih murah dari produk internasional. Kalau mutunya jauh lebih bagus, apakah juga harus dijual lebih murah?” kata Alex seraya menyebutkan, saat ini harga produknya Rp 23.000-88.000.
Karena harganya lebih mahal, EBI pun membidik target pasar yang lebih spesifik. “Kami tidak menyasar semua segmen. Kami fokus di segmen menengah-atas,” ujarnya. Karena itu, pada tahap awal EBI pun mendistribusikan produknya di kawasan yang banyak dihuni kalangan menengah-atas. “Daerah pertama yang kami jajaki adalah wilayah Jakarta Selatan.”
Tanpa pengalaman distribusi yang memadai, strategi tersebut tidak berjalan mulus. EBI pun mempersempit fokus wilayah garapannya. “Kami menggarap per kelurahan. Kalau sudah cukup baik di satu kelurahan, baru pindah ke kelurahan lainnya,” ungkapnya. Dan di setiap gerai yang menjual Enzim, EBI acap kali menggelar event untuk mengedukasi konsumen secara langsung.
Walau fokus wilayah garapannya sudah dipersempit, penjualan Enzim masih belum juga terdongkrak. Beberapa gerai bahkan sudah enggan menjual produk ini. Maka, EBI melakukan langkah yang sedikit “licik”. “Kami melakukan buy back. Tujuannya, agar toko merasa bahwa produk itu ‘berputar’ dan mereka tetap mau menjualnya,” ungkap Alex.
Diakuinya, strategi buy back tersebut memang membuat perusahaannya semakin berdarah-darah. Namun, Alex tetap bertahan. “Produk seperti ini memang harus rugi dulu.”
Upaya edukasi terus dilakukan. Tidak hanya konsumen akhir, tetapi para dokter gigi dan kalangan akademisi pun tak luput dari incaran EBI. Alex sendiri acap kali menjadi dosen tamu di fakultas kedokteran gigi di berbagai universitas di Indonesia. Tujuannya, tak lain, untuk menyosialisasi hasil penelitiannya sekaligus memperkenalkan produknya.
Pelan tetapi pasti, penjualan Enzim mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Upaya edukasi pun semakin digenjot. “Event yang kami lakukan di outlet terus ditambah frekuensinya,” ungkap Alex yang juga menerbitkan Enzim untuk anak-anak. Enzim anak-anak, dikatakannya, sekaligus sebagai upaya edukasi sedari dini. Ini juga terkait dengan strategi EBI yang hampir 100% mengandalkan aktivitas below the line. Maklum, keterbatasan anggaran membuat perusahaan ini seperti alergi dengan komunikasi above the line.
Dengan banyak menggelar kegiatan BTL, Alex berharap tidak hanya membuat konsumen teredukasi, tetapi juga menciptakan word of mouth. “Ternyata, cukup berhasil.”
Menurut Alex, memasuki milenium baru (tahun 2000-an), penjualan Enzim semakin membaik. “Sejak awal, setiap tahun penjualan kami memang selalu tumbuh. Tapi sejak tahun 2000 pertumbuhannya mulai signifikan,” ungkapnya. Distribusi Enzim pun semakin meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia, khususnya di kota-kota besar.
EBI juga tak lagi mendistribusikan sendiri produknya. “Distributor mulai bersedia mendistribusikan produk kami,” ujar Alex tanpa bersedia menyebut nama perusahaan distribusinya. Saat ini ada dua perusahaan distribusi yang menyalurkan produk Enzim. Namun, kedua distributor tersebut menyasar pasar yang berbeda, yaitu pasar produk konsumer dan pasar medis.
Semakin meluasnya distribusi produk membuat EBI mulai merasa perlu melakukan komunikasi above the line, khususnya iklan di televisi. Namun, sekali lagi, karena bujet yang terbatas, komunikasi ATL Enzim amat terbatas. “Kami hanya tampil di Metro TV dan TV One,” kata Alex.
Tak berhenti sampai di situ, sejak 2007 EBI pun menempun strategi baru dalam upaya mengedukasi konsumen, yaitu dengan menggelar kegiatan factory visit. Setiap hari, mereka mendatangkan rombongan dari berbagai wilayah di sekitar Jakarta dan Jawa Barat (bahkan sampai Lampung) untuk mengunjungi pabriknya yang berlokasi di Cimanggis. “Kami menyediakan bus dan makan siang,” kata Alex.
Di pabrik, para peserta factory visit akan mendapat berbagai pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut. “Setiap hari, dari Senin sampai Jumat selalu ada rombongan yang datang,” ujarnya seraya menambahkan, setiap rombongan harus berjumlah minimal 50 orang.
Menurut pakar pemasaran dari Direction Consulting, Jahja B. Soenarjo, strategi factory visit yang digelar EBI kurang tepat. “Enzim itu bukan produk makanan. Kalau produk makanan, memang perlu, untuk menunjukkan bahwa pembuatan produknya higienis,” ujarnya. Jahja berpendapat, akan lebih efektif jika EBI memberikan sampel dan menggunakan testimoni para pakar di bidang kesehatan gigi untuk meyakinkan konsumen.
Untuk meraih pasar, tambah Jahja, memang tak ada cara lain bagi EBI selain mengedukasi pasar. Dan, upaya edukasi itu menurutnya harus terus dilakukan. “Butuh napas panjang memang.”
Selain itu, Jahja juga menyebut bahwa faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah pemilihan channel. Karena harga yang dipatok Enzim tergolong cukup tinggi, gerai yang memasarkannya pun harus dipilih dengan benar. EBI, menurutnya, tidak harus membidik semua jenis gerai untuk memasarkan produk ini. “Pasar yang mereka bidik tidak besar, jadi outlet-nya pun harus dipilih dengan benar. EBI harus tahu habit belanja target pasarnya.”
Alex sependapat dengan Jahja. Walau saat ini distribusi produknya sudah mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia, jumlah gerai yang memasarkan produk ini tidaklah terlalu banyak. “Kami lebih banyak masuk ke modern market.”
Berkembangnya pasar juga diantisipasi EBI dengan terus berinovasi. Awalnya mereka hanya mengandalkan dua varian produk, sedangkan kini mereka sudah memiliki lima varian, termasuk orthodontic untuk orang yang menggunakan kawat orthodontic dan pasta gigi untuk anak-anak.
Menurut Alex, yang pernah menjadi produser film pada 1970-an, pasta gigi Enzim kini sudah diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir rata-rata Enzim berhasil meraih pertumbuhan penjualan hingga 30%. Bahkan, produk ini mulai merambah pasar luar negeri, walau baru di Taiwan saja. “Harga di Taiwan lebih tinggi lagi dan tercatat sebagai pasta gigi termahal di dunia,” ungkapnya.
Ke depan, Enzim akan tetap fokus dalam menggarap segmen pasar yang digelutinya saat ini. “Saya memang bercita-cita membuat gigi semua orang Indonesia sehat, ” ujarnya, “Tapi, dengan harga yang seperti ini, rasanya masih sulit membidik pasar yang lebih luas.” ***
dikutip dari: http://swa.co.id/2009/12/cara-enzim-merebut-pasar/
